Wednesday, 20 October 2021

Kebijakan Baru Bagi Emiten Properti & Otomotif

Ekonomi & Bisnis

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk melanjutkan kebijakan yang akomodatif hingga akhir tahun depan, terutama untuk sektor properti dan otomotif. Tentu saja hal ini akan menjadi katalis positif untuk emiten saham di dua sektor tersebut.

 

 

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, 19-20 September 2021, Bank Sentral Nasional memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran ketentuan uang muka kredit atau pembayaran kendaraan bermotor menjadi paling sedikit 0%, untuk semua jenis kendaraan bermotor baru.

 

 

Kebijakan tersebut berlaku efektif 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022. Selain itu, BI juga melanjutkan pelonggaran rasio Loan to Value atau Financing Value kredit pembiayaan properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti bagi bank yang memenuhi kriteria NPL-NPF tertentu.

 

 

"Dan menghapus ketentuan pencairan bertahap properti inden untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko, berlaku efektif 1 Januari 2022 sampai dengan 31 Desember 2022," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam konferensi Persnya.

 

 

Kebijakan tersebut menjadi angin segar bagi sektor properti maupun sektor otomotif yang kontribusinya terbilang besar untuk perekonomian Indonesia, mengingat sektor ini memiliki rantai pasok yang terkait dengan industri lain.

 

 

Sejatinya, kebijakan ini sudah diterapkan sejak awal tahun 2021, namun jika dilihat dari segi penjualan properti maupun otomotif kinerjanya belum begitu terlihat. Hingga kuartal 2 2021, penjualan rumah masih tercatat mengalami kontraksi 10%. Sementara itu, penjualan motor dan mobil walaupun meningkat secara tahunan, tetapi diperkirakan belum bisa pulih ke level pra pandemi.

 

 

Berlanjutnya kebijakan yang akomodatif ini diharapkan akan mendongkrak penjualan properti maupun otomotif setidaknya untuk satu tahun mendatang. Apalagi jika ditambah dengan tren penurunan suku bunga, KPR, maupun pembiayaan kendaraan serta relaksasi PPN dan PPnBM.

 

 

Untuk itu, ada peluang saham-saham emiten sektor properti terutama yang memiliki exposure besar terhadap penjualan properti residential serta penjualan otomotif bakal terangkat naik. Namun, investor maupun trader harus lebih selektif dalam memilih saham di ke dua sektor tersebut jika ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk mendapatkan untung.

 

 

Setidaknya, emiten yang memiliki portofolio perumahan yang terjangkau atau affordable serta kendaraan roda dua maupun roda empat yang Market Share-nya besar bisa menjadi pertimbangan bagi investor.

 

 

Berikut saham emiten properti dan kinerjanya pada perdagangan kemarin (19/10/21)

 

 

1. Ciputra Development Tbk (CTRA): -2,23% (Rp 1.095/unit)

 

 

2. Alam Sutra Realty Tbk (ASRI): -1,96% (Rp 200/unit)

 

 

3 PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE): -1,72% (Rp 1.140/unit)

 

 

4. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA): -1,59% (Rp 930/unit)

 

 

5. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN): -0,67% (Rp 149/unit)

 

 

6. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR): 0% (Rp 161/unit)

 

 

7. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON): 0% (Rp 525/unit)

 

 

Berikut saham emiten otomotif dan kinerjanya pada perdagangan kemarin (19/10/21)

 

 

1. PT Astra Internasional Tbk (ASII): 2,01% (Rp 6.350/unit)

 

 

2. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO): 0,87% (Rp 1.165/unit)

 

 

3. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS): 0,47% (Rp 1.075/unit)

 

 

4. PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS): 0,44% (Rp 456/unit)

 

 

5. PT Mitra Pinashtika Mustika Tbk (MPMX): 0% (Rp 740/unit)

 

 

Sumber berita: cnbcindonesia.com

SHARE
Light
Dark
© 2021, Polithings. All rights reserved.