Wednesday, 29 September 2021

Pasar Saham Global Jatuh, Harga Kripto Big Cap Ikut Drop!

Ekonomi & Bisnis

Harga mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar kembali melemah pada perdagangan Rabu (29/9/2021) pagi waktu Indonesia, di tengah sikap investor yang merespons negatif dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

 

 

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:15 WIB, kedelapan kripto berkapitalisasi terbesar non-stablecoin kembali diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini.

 

 

Bitcoin melemah 2,01% ke level harga US$ 41.693,53/koin atau setara dengan Rp 595.800.544/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.290/US$), ethereum merosot 2,89% ke level US$ 2.862,96/koin atau Rp 40.911.698/koin, cardano ambles 5,31% ke US$ 2,05/koin (Rp 29.295/koin).

 


 

Berikutnya binance coin turun 0,5% ke level US$ 337,74/koin atau Rp 4.826.305/koin, ripple tergelincir 3,03% ke US$ 0,9068/koin (Rp 12.958/koin), solana terkoreksi 1,07% ke US$ 136,08/koin (Rp 1.944.583/koin), polkadot terpangkas 3,6% ke US$ 27,02/koin (Rp 386.116/koin), dan dogecoin terdepresiasi 2,05% ke US$ 0,1979/koin (Rp 2.828/koin).

 

 

Kripto

 

 

Mayoritas kripto kembali diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini, cenderung mengikuti pasar saham global karena investor merespons negatif dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) hingga menyentuh level di atas 1,5%.

 

 

Pada penutupan perdagangan Selasa (28/9/2021) kemarin waktu AS, yield Treasury AS tenor 10 tahun pada kembali menanjak 5,55 basis poin (bp) ke level 1,5461%, dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.

 

 

Kenaikan yield Treasury membuat saham-saham teknologi di AS ditutup berjatuhan, di mana hal ini juga berimbas ke saham teknologi yang terkait dengan pasar kripto.

 

 

"Dalam pasar saham, kita akan memasuki bulan yang paling berbahaya di tahun ini, Oktober adalah bulan di mana kemungkinan koreksi besar terjadi," kata Charlie Silver, CEO Permission.io, dikutip dari CoinDesk.

 

 

"Kripto saat ini seakan sedang terombang-ambing, di tengah sikap investor yang masih menanti kejelasan aturan kripto di AS dan bank sentral beberapa negara bergerak di sekitar krisis utang China," tambah Silver, seraya merujuk pada gejolak atas krisis keuangan Evergrande.

 

 

Selain itu, masalah politik klasik di AS, yakni batas utang, juga membebani sentimen pelaku pasar global, termasuk di kripto. AS masih terancam mengalami shutdown.

 

 

Kongres AS harus menyetujui Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) AS pada Jumat (1/10/2021) mendatang untuk menghindari shutdown.

 

 

Menteri Keuangan Janet Yellen juga mengatakan Kongres AS harus menyetujui kenaikan batas utang pada 18 Oktober agar Amerika Serikat terhindar dari gagal bayar (default).

 

 

Sejauh ini, Partai Republik masih menolak untuk menaikkan batas utang.

 

 

Di lain sisi, koin digital berbasis desentralized finance (DeFi), Uniswap melaporkan pihaknya telah mentransaksikan dengan total 67,5 juta perdagangan sejak rilis versi pertama pada tahun 2018, menurut data dari Coin Metrics.

 

 

Namun, perdagangan harian mencapai puncaknya sekitar 271.000, disaat aksi jual melanda kripto pada Mei lalu. Sejak Mei, perdagangan di Uniswap telah turun menjadi sekitar 100.000 per hari.

 

 

"Saat ini, ada sekitar 30.000 alamat unik yang bertransaksi setiap hari, dan Uniswap telah menjadi salah satu dapps paling populer di blockchain Ethereum," tulis Coin Metrics.

 

 

Pada awal bulan ini, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa regulator sedang menyelidiki Uniswap Labs, setelah Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Gary Gensler menyatakan bahwa proyek DeFi tidak kebal terhadap peraturan.

 

 

Terlepas dari risiko regulasi dan penurunan aktivitas perdagangan selama beberapa bulan terakhir, beberapa analis melihat adanya potensi positif dalam jangka panjang di platform pertukaran DeFi (DEX).

 

 

Sumber berita dan foto: cnbcindonesia.com

SHARE
Light
Dark
© 2021, Polithings. All rights reserved.