Wednesday, 20 October 2021

Jangan Abaikan Wanita di Dunia Politik, Mereka Mampu Memberikan Perubahan

Politik

Sekarang ini, upaya meningkatkan jumlah perempuan agar bisa duduk di DPR terus dilakukan. Aturan UU Pemilu sudah mengharuskan setiap parpol harus punya calon legislatif 30 persen. Maka, kaum perempuan dan caleg perempuan sendiri yang memang harus kerja keras menggapainya.


 

Namun, hal itu tidak hanya untuk memenuhi kuota semata, tetapi mereka juga berjuang untuk mempertahankan hak - hak perempuan Indonesia. 


 

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Srikandi Tenaga Pembangunan Sriwijaya (Srikandi TP Sriwijaya), Nyimas Aliah. Ia mengatakan jangan pernah menganggap remeh peran perempuan di legislatif atau dalam dunia pekerjaan. 


 

"Masih banyak menganggap remeh padahal sekarang perempuan makin hebat-hebat perempuan sudah bisa jadi Profesor, Doktor dan sebagainya," tuturnya. 


 

Namun, dari data Gender Diplomat Indeks (GDI), menurut Nyimas masih banyak terjadi Gap antara kaum laki-laki dan perempuan.


 

"Di situlah wakil rakyat memperjuangkan, Seperti contohnya dibentuknya perlindungan hukum seperti RUU PKS. Kenapa RUU PKS harus diperjuangkan. RUU ini melindungi perempuan - perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya, sementara perlindungannya masih belum maksimal," tutur Nyimas. 


 

Selain itu, Nyimas melanjutkan bahwa perlu adanya akses seluasnya bagi kaum perempuan di semua bidang, misalnya Bagaimana kemudahan perempuan untuk mengakses di bidang politik, Nah itu mereka perjuangkan di undang-undang tentang parpol atau peraturan daerah. 


 

"Jadi tugasnya mereka memang di ranah kebijakan, dihukum, di undang-undang. Mereka kita lihat banyak perempuan di komisi 8, Ya syukur juga isu perempuan dan anak tapi mereka yang ada di komisi lain misalnya di bidang infrastruktur adalah memperjuangkan kebutuhan perempuan karena kebutuhan," tuturnya. 


 

Mengenai adanya diskriminasi perempuan dengan laki - laki bisa dirasakan di ranah perkantoran. Menurut Nyimas perempuan itu bisa mencapai kesetaraan.  Memang di bidang pendidikan perempuan itu sudah hampir melampaui laki-laki, tapi ketika masuk ke lapangan kerja itu anjlok lagi. 


 

Selain itu, ia menyoroti bahwa banyak perempuan muda yang harus berhenti bekerja karena beberapa persoalan, seperti persoalan anak, dan lain-lain bahkan mengenai pemahaman laki-laki Bagaimana istrinya berkarier.


 

"Ini banyak juga yang menjadi hambatan bagi perempuan. karena staf saya di kantor juga banyak yang menjadi korban seperti itu, padahal mereka pinter, sdm-nya bagus, dan mereka harus lebih mengutamakan tumbuh kembang anaknya. Saya tanya Nanti anaknya setelah SMP bagaimana? sementara tuntutan rumah juga tinggi. Nah jadi itu persoalan, Kenapa perjuangan perempuan itu belum selesai dan harus terus diperjuangkan. Upaya-upaya untuk menghambat itu juga cukup banyak," tutur Nyimas. 


 

Menurut Nyimas, budaya patriarki yang menjadikan diskriminasi itu berdasarkan kajian riset para ahli gender. Hal itu tidak hanya di Indonesia bahkan hampir diseluruh belahan dunia.


 

“Budaya patriarki itu masih terjadi dimana dominasi laki-laki lebih kuat dibanding perempuan jadi sumber daya atau semua itu lebih banyak dikuasai oleh laki-laki, karena perempuan kadang gamang memasuki apalagi ranah-ranah maskulinitas,” tuturnya.


 

Maka dari itu, adanya Srikandi TB Sriwijaya memberdayakan meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan dan anak. Bukan hanya di Sumatera saja, tapi seluruh Indonesia. 


 

"Itulah mimpi, tapi mimpi itu juga pelan-pelan kita harus wujudkan. Mulai di internal kita lagi menyamakan persepsi," ujar Nyimas. 


 

Perlu diketahui, Srikandi Sriwijaya terbentuk dari keresahan para kaum perempuan, mereka ingin menjaga hak dan memberdayakan kaum perempuan dan melindungi anak untuk Indonesia. 


 

Ketua Umum Pengurus Pusat Srikandi Tenaga Pembangunan Sriwijaya (Srikandi TP Sriwijaya), Nyimas Aliah mengatakan bahwa wadah itu berperan aktif dalam memberdayakan perempuan dan melindungi anak untuk Indonesia maju.


 

"Kita ini adalah Srikandi pegiat perdamaian jadi semua persoalan itu kita bisa selesaikan dengan damai tidak perlu dipertentangkan. Kalau bisa diperkecil kita jangan diperbesar. Kedepannya nanti kami harapkan Srikandi ini bisa menjadi garda terdepan untuk mencegah mencegah konflik-konflik terhadap perempuan dan anak," tutur Nyimas kepada polithings. 


 

Apalagi, menurutnya sebentar lagi akan ada pemilihan kepala daerah maupun presiden. Hal itu rentan sekali dengan adanya konflik. 


 

"Inilah peran kami menjaga Kebhinekaan dari ancaman-ancaman tersebut. Kami bisa menjadi perekat dari persoalan itu," tutur Nyimas. 


 

Perlu diketahui, Srikandi Sriwijaya menjaga dan membangun di wilayah Sumatera, seperti Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera bagian Selatan dan Bangka Belitung.


 

Nyimas melanjutkan bahwa walaupun melindungi perempuan dan anak, organisasi tersebut juga melibatkan kaum pria untuk berperan dalam melindungi kaum tersebut. 


 

“Dengan kita melibatkan laki-laki itu sangat baik sekali. Mereka yang berbicara masalah perlindungan perempuan dan anak di mana persoalan ini belum menjadi fokus bagi kaum laki-laki, kita harapkan organisasi ini bisa menjadi contoh bagi organisasi lain,” ucap Nyimas.


 

Sumber foto: twitter.com

SHARE
Light
Dark
© 2021, Polithings. All rights reserved.