Monday, 12 July 2021

Masih Efektifkah Kampanye dengan Cara Lama di Era Digital?

Politik

Baru-baru ini perkembangan jaringan 5G semakin dikembangkan. Indonesia pun tak mau ketinggalan, sejumlah provider Tanah Air sudah mencoba jaringan tersebut di beberapa wilayah, khususnya DKI Jakarta. 

 

Nantinya, dengan adanya jaringan 5G, penyerapan informasi lebih cepat ketimbang 4G. Seseorang bisa mengoptimalkan perkembangan teknologi hanya dari smartphone. 

 

Dengan perkembangan teknologi, sudah saatnya era digitalisasi merambah ke semua wilayah di Indonesia. Mulai dari bekerja, belajar, sampai kampanye. 

 

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, ia mengatakan bahwa visi Indonesia untuk menjadi bangsa digital yang maju yang harus berani memiliki mimpi yang besar. Oleh karena itu, Menteri Johnny mendorong agar masyarakat lebih meningkatkan pemanfaatan teknologi digital.

 

“Mimpi-mimpi besar ini perlu direalisasikan melalui upaya edukasi dan peningkatan literasi serta capacity building masyarakat Indonesia, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi,” tuturnya.

 

Menteri Johnny melanjutkan mengatakan saat ini Indonesia sedang memasuki era revolusi industri 4.0. Menurutnya, dalam tahap revolusi industri yang keempat ini, disrupsi teknologi digital semakin masif.

 

Lantas, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, masihkah efektifkah kampanye dengan cara lama.

 

Seperti yang dirasakan saat ini, ada beberapa partai Indonesia sudah melakukan kampanye calon presiden. Padahal, pemilihan presiden baru 3 tahun lagi dimulai. 

 

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya calon presiden dari partai terpampang pada baliho di sejumlah wilayah. 

 

Salah satu politisi yang gencar memasang baliho adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Calon kuat untuk jadi presiden dari Partai Demokrat ini sudah menempatkan baliho gambar dirinya. 

 

Dengan loncatan itu, Demokrat dinilai branding AHY untuk bisa maju sebagai calon presiden 2024. Salah satu baliho yang ditemukan ada di Solo, Surabaya, dan Jawa Barat. 

 

Dilansir, berbagai sumber pengamat politik UNS, Agus Riewanto, memaparkan, menjamurnya baliho politikus nasional di Solo dinilai sebagai upaya mendongkrak popularitas.

 

“Itu semacam fenomena pansos. Karena Solo itu lebih banyak dikunjungi orang sejak Gibran menjadi Wali Kota. Besar kemungkinan orang-orang ini pansos, ingin diperhatikan banyak orang,” kata Agus Riewanto dilansir Minggu (27/6/2021).

 

Ia menilai pemasangan baliho maupun spanduk politikus nasional juga tidak lepas dari sosok Wali Kota Solo Gibran Rakabuming yang sudah dianggap sebagai tokoh nasional.

 

Lewat baliho, AHY tak hanya diproyeksikan sebagai pemimpin Pilpres 2024. Langkah tersebut dinilai berbahaya. Demokrat tampak terlalu mengandalkan AHY. Sementara itu, pengalaman yang belum memadai membuat AHY dinilai akan sulit bersaing.

 

Bisa dibilang, kompetisi di 2024 itu nanti ketat karena gubernur-gubernur ini akan menjadi calon presiden juga, entah siapapun itu kan, tapi sementara AHY sendiri belum jelas posisinya apakah jadi Cawapres atau Capres. 

 

Kerja nyata

 

Penggunaan media luar ruang, seperti baliho dan videotron, dinilai belum mampu mendongkrak elektabilitas kandidat calon presiden secara signifikan. Kerja nyata harus ditunjukkan kepada publik apabila ingin elektabilitas tinggi.

 

Tak hanya itu, sejumlah masyarakat menganggap bahwa pemasangan baliho untuk capres 2024 dinilai tidak efektif. Pasalnya, dengan adanya perkembangan teknologi para capres harusnya bisa aktif dalam secara digital. 

 

Tak hanya itu, bicara branding masyarakat sudah aware mana pemimpin yang bekerja nyata bagi rakyat dan mana yang hanya pansos di media sosial. 

 

Namun, kampanye secara digital perlu diimbangi dengan kerja nyata. Jangan sampai, hanya aktif di media sosial tetapi tidak bekerja sebagai pemimpin di lapangan. 

 

Berdasarkan data survei yang dirilis oleh Indo Barometer, publik tampaknya ingin mengedepankan faktor kerja nyata dan dekat dengan rakyat, sebagai alasan utama mereka memilih sosok calon presiden di Pemilu 2024 mendatang.

 

Dijabarkan Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari, presentasi pemilih berdasarkan kerja nyata menduduki alasan paling atas publik dalam memilih sosok capres.

 

"Dari survei ini, sosok capres di 2024 harus mempunyai fitur-fitur kerja nyata, dekat dengan rakyat, tegas, kinerjanya bagus, dan pintar atau intelektual agar dipilih rakyat. Dengan asumsi selera tersebut tidak berubah hingga 2024 mendatang," Kata Qodari.

 

Foto: Medcom.id

SHARE
Light
Dark
© 2021, Polithings. All rights reserved.