Mendalami Peran Perempuan dalam Mencapai Perdamaian Global: Konferensi Perempuan Internasional 2023

Konferensi Perempuan Internasional 2023: Menggali Peran Perempuan dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia Dalam situasi global yang masih dipenuhi oleh konflik, permusuhan, dan ketidakdamaian, konferensi International Women’s

polithings

Walikota Maria Theresa Royo-Timbol dan Wakil Walikota Elizabeth Mangudadatu dari Mangudadatu, Maguindanao, Mindanao, Filipina, bersama Ruby Banares-Victorino, aktivis wanita Filipina, mantan Presiden Zonta Club metropilitan pasig

Konferensi Perempuan Internasional 2023: Menggali Peran Perempuan dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia

Dalam situasi global yang masih dipenuhi oleh konflik, permusuhan, dan ketidakdamaian, konferensi International Women’s Peace Conference (IWPC) 2023 menjadi sorotan utama di The Grand Hyatt Incheon West, Korea Selatan pada tanggal 19 September lalu.

Acara ini, dengan tema “The Role of Women for Sustainable Peace,” mengumpulkan pemimpin dan perwakilan dari seluruh dunia untuk mendiskusikan peran krusial perempuan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Pemimpin dari Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL), Lee Man Hee, memberikan pidato inspiratifnya tentang pentingnya persatuan antara pria dan wanita dalam mencapai perdamaian dunia. “Tuhan menciptakan pria dan wanita, karena itu kita harus bersatu dalam mewujudkan perdamaian. Bagi para wanita IWPG, jadilah terang cahaya bagi seluruh dunia, pembawa perdamaian,” kata Lee Man Hee.

IWPC tidak hanya menjadi platform untuk menghormati peran perempuan dalam perdamaian, tetapi juga untuk merayakan upaya IWPG (International Women’s Peace Group) dalam mewujudkan perdamaian dunia. Acara ini juga merupakan bagian dari Peringatan KTT Perdamaian Dunia ke-9, yang diadakan setiap tanggal 18 September oleh organisasi yang berafiliasi dengan IWPG, HWPL.

Perdamaian, Tanggung Jawab Bersama

Lee Man Hee menekankan bahwa perdamaian bukanlah tanggung jawab sekelompok orang atau negara tertentu, tetapi harus menjadi milik bersama seluruh umat manusia. “Jika negara bermasalah, wargalah yang jadi korban. Perbaikan kondisi ini harus dimulai dari diri masing-masing. Hal utama yang harus dimiliki setiap manusia adalah keamanan dan perdamaian dalam konteks cinta,” tambahnya.

Dalam upaya untuk mengubah perang menjadi kenangan masa lalu, Lee Man Hee bersama Ketua IWPG, Hyun Sook Yoon, secara aktif berupaya untuk menjadikan Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) yang mereka perjuangkan menjadi undang-undang (UU) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jika DPCW berhasil menjadi undang-undang di PBB, harapannya adalah perang tidak akan lagi terjadi di mana pun di dunia ini.

Perempuan: Agen Perubahan Menuju Perdamaian Berkelanjutan

Ibu Negara Republik Demokratik Sao Tome and Principe, Maria de Fatima Afonso Vila Nova, turut memberikan pandangan pentingnya peran perempuan dalam membangun perdamaian dunia. Ia mengingatkan bahwa tanpa perdamaian, kemiskinan, kelaparan, konflik, dan korban akan terus ada. “Para wanita harus ikut serta mengubah sistem itu, di manapun kita berada dan apapun profesi kita,” kata Maria de Fatima Afonso Vila Nova.

Para pembicara lainnya juga berbagi pengalaman pribadi mereka, termasuk Aya Benjamin Libo Warille, seorang Ahli Gender, Anak, dan Kesejahteraan Sosial dari Sudan Selatan. Warille menggambarkan pengalaman mengerikan perang dan konflik di negaranya, dan mengingatkan semua bahwa perempuan harus menjadi korban aktif, bukan pasif, dalam memperjuangkan perdamaian.

Konferensi ini terbagi menjadi tiga tema utama: pendidikan perdamaian, budaya perdamaian, dan pelembagaan perdamaian. Selama sesi pertama, perwakilan dari Mali dan Tanzania berbicara tentang pentingnya pendidikan perdamaian dan perubahan yang telah terjadi setelah mengikuti program pelatihan IWPG.

Sesi kedua melibatkan tiga perempuan Filipina yang berbagi bagaimana kehidupan perempuan di Mindanao, Filipina, berubah secara positif pasca perdamaian di wilayah tersebut, yang diprakarsai oleh HWPL, IPYG, dan IWPG. Mereka menceritakan betapa hancurnya daerah tersebut selama konflik, namun dengan adanya perdamaian, Mindanao telah berubah menjadi tempat yang lebih aman dan damai.

Sesi ketiga menyoroti keterbatasan hukum internasional dalam mengatasi konflik dan pentingnya DPCW dalam menciptakan dasar hukum untuk perdamaian global. Para pembicara mengingatkan bahwa pelembagaan perdamaian berkelanjutan membutuhkan kerjasama global.

Penghargaan untuk Perempuan Pejuang Perdamaian

Pada akhir konferensi, beberapa perempuan diberikan penghargaan atas kontribusi mereka dalam mempromosikan perdamaian dunia. Aya Benjamin Libo Warille dari Sudan Selatan mendapatkan IWPG Peace Achievement Award. Sementara itu, Pascal Esho Warda dari Irak ditunjuk sebagai Anggota Dewan Penasihat IWPG, dan Warda Sada dari Israel ditunjuk sebagai Duta Publisitas. Laji Balghis dari India, Vinithaput Phophet dari Thailand, dan Wanja Cheon dari Republik Korea juga menerima IWPG Achievement Award.

Konferensi International Women’s Peace Conference (IWPC) 2023 menjadi titik fokus yang memperkuat peran perempuan dalam membangun perdamaian dunia yang berkelanjutan. Melalui kerja sama global dan upaya bersama, para peserta konferensi berharap untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai untuk generasi mendatang. Perjuangan untuk perdamaian akan terus berlanjut, dengan perempuan di garis depan sebagai agen perubahan utama.

Avatar photo

polithings

Di Polithings, Anda dapat menemukan informasi yang akurat dan komprehensif tentang berbagai topik politik, kebijakan publik, ekonomi, dan bisnis.

Tags

Baca Juga

Tinggalkan komentar